22/03/2026
Pagi itu, tinta pena riuh mengisi lembaran kertas sebagai daftar hadir. Setelahnya, semua peserta duduk di kursi yang telah ditentukan oleh panitia.
Awalnya biasa saja, hampir sama dengan acara-acara yang saya ikuti sebelumnya. Namun ada hal yang menarik, kelompok meja peserta di depan saya duduk, kelihatan asik dan seru.
Acara pun berlangsung, dan momen itu menaruh rasa penasaran saya apa yang membuat kelompok meja di depan tersebut cepat kompak, saling bercanda dan tertawa.
Tidak sengaja mataku tertuju pada salah seseorang. Beliau sosok orang tua tampak bersahaja. Beliau bukan narasumber, beliau peserta seperti saya. Tapi beliau dengan mudah memberi pengaruh dan bergaul dengan orang-orang di mejanya walau sebelumnya tidak saling kenal karena berasal dari berbagai daerah.
Menariknya, saat istirahat siang, pengaruh bapak tersebut semakin melebar, bukan hanya di kelompoknya, namun hampir semua orang di ruangan tersebut tertawa karena candaan berkelas sang orang tua. Waohh, gumamku dalam hati.
Hari kedua pun tiba, pagi itu saya izin untuk bergabung di meja tempat beliau sarapan. Silakan anak muda, sambut beliau dengan penuh kehangatan. Terima kasih, Pak, jawabku.
Setelah kenalan dan beberapa kalimat basa-basi, saya memberanikan bertanya. Izin Pak boleh nanya sesuatu? Boleh jawabnya. Apa yang membuat bapak selalu ceria, dan membuat orang lain juga jadi ceria Pak?
Hahaha, beberapa orang yang bergabung dengan kami tertawa. Betul Pak, bagi dulu rahasianya, tambah salah seorang teman di belakang saya.
Rahasianya hanya satu yaitu memaafkan. Aku pun kaget, apa maksudnya, bukannya di ruangan ini baru jumpa semua ya? Malah disuruh memaafkan.
Maksudnya bagaimana, Pak? Maksudnya gini, kalau ada sesuatu yang membuat kamu kecewa, jangan berhenti di titik kekecewaan. Kamu harus memaafkan. Memaafkan dirimu, memaafkan langkahmu yang keliru, memaafkan keputusanmu, bahkan memaafkan kemampuanmu. Kalau kamu mau hidup bahagia dan membuat orang lain bahagia, KECEWA AJA TIDAK CUKUP, KAMU HARUS MEMAAFKAN.