20/02/2026
Wajah yang tak pernah bisa dilupakan
(kesaksian sayyidina Ali bin Abi Thalib)
_Rindu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata, ketika Ali bin Abi Thalib menceritakan perawakan Rasulullah ﷺ dengan mata yang berkaca-kaca._
Malam itu Madinah tenang Rasulullah ﷺ telah lama wafat. Namun bagi Ali bin Abi Thalib, kepergian itu tak pernah benar-benar menjauhkan beliau dari ingatan. Ada wajah yang terus hidup di relung hatinya ____ wajah yang tidak bisa ditiru oleh kata, namun ia berusaha menghidupkannya dengan kesaksian.
Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya,
"Wahai Ali, ceritakanlah kepada kami bagaimana rupa Rasulullah ﷺ. "
Maka sayyidina Ali pun terdiam sejenak. bukan karena tak tahu. Justru karena terlalu mengenal. Ia tumbuh di rumah itu. Tidur di lantai yang sama. Melihat nabi ﷺ bukan dari kejauhan, tapi dari jarak yang paling dekat ____ jarak keluarga.
Lalu ia berkata dengan suara yang sangat rindu : "Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang terlalu tinggi, dan bukan p**a pendek. Beliau bertubuh sedang, seimbang, sempurna ".
Tak ada yang berlebihan pada diri nabi ﷺ, setiap bagian berada pada tempatnya. Tak satupun terasa ganjil bagi mata.
Ali melanjutkan,
" Rambut beliau tidak terlalu keriting, dan tidak p**a lurus menjuntai. Rambutnya bergelombang lembut, ".
Seolah setiap helai rambut itu ikut tunduk pada ketenangan beliau.
" Wajahnya tidak bulat penuh, namun juga tidak lonjong. Wajahnya bercahaya."
Bukan cahaya yang menyilaukan mata, melainkan cahaya yang menenangkan jiwa.
"Kulitnya" kata Ali " "Putih kemerah-merahan".
Putih yang hidup, bukan pucat, bukan dingin.
Seperti seseorang yang jiwanya selalu tersambung dengan langit.
Lalu ia menyebutkan sesuatu yang paling membekas :
"Mata beliau hitam pekat, dengan bulu mata yang panjang".
Tatapan Rasulullah ﷺ bukan tatapan yang menekan.
Namun siapapun yang dipandang, merasa dihargai seutuhnya.
"Alis beliau panjang dan terpisah, tidak bertemu".
"Dan di antara kedua alis itu, terdapat urat halus yang tampak ketika beliau marah ____ namun marahnya pun selalu karena Allah, bukan karena dirinya"
"Hidung beliau" kata Ali, "Mancung dan indah, dan pada pipinya tidak menonjol dan tidak p**a cekung"
kesempurnaan yang sunyi tak perlu dipamerkan.
"Jenggot beliau lebat, lehernya bersih dan berkilau seperti perak. dada beliau bidang, diantara dada dan perutnya terdapat garis halus rambut tanda kenabian yang dikenal para sahabat"
"Ketika Rasulullah ﷺ berjalan", Ali berkata, "beliau berjalan dengan langkah yang tegap, seakan turun dari tempat tinggi . " bukan langkah sombong tapi langkah seseorang yang tahu ke mana ia menuju.
Dan bila beliau menoleh, "beliau menoleh dengan seluruh tubuhnya".
Tak pernah setengah-setengah.
Sebagaimana hidupnya selalu total, selalu jujur.
Lalu sayyidina Ali menutup kesaksiannya dengan kalimat yang membuat dada sesak oleh rindu. :
"Barang siapa melihat Rasulullah ﷺ secara tiba-tiba, pasti akan merasa segan, namun siapa yang mengenalnya dengan dekat, pasti akan mencintainya."
Dan Ali tahu persis apa maksudnya.
Karena ia bukan hanya melihat nabi, ia mencintainya bukan karena wajah semata, tapi karena di wajah itu, berkumpul akhlak langit dan kelembutan bumi.
Dan hingga hari ini umat yang tak pernah menatap wajah itu tetap merindukannya. Karena cinta yang sejati tak pernah selalu butuh pertemuan.
Tak ada cara paling indah membalas rindu selain memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Abdullah bin Abi Auwfa RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah besabda:
_“Sungguh aku rindu pada saudara- saudaraku”._
Umar berkata _“Bukankah kami saudaramu?”_
Nabi menjawab: _“Bukan. Kalian adalah Sahabatku._ _Saudaraku adalah orang-orang yang iman kepadaku tapi tidak pernah melihatku.”_
MasyaAllah...
Allahumma Sholli 'alaa Muhammad.
Sumber: hadis HR. Tirmidzi no. 3638
HR. Ahmad (musnad Ali bin Abi Thalib)
Dinilai Hasan sahih oleh para ulama.