SLTP-SMA "Global Altenatif School-Qaryah Thayyibah" Ketapang

SLTP-SMA "Global Altenatif School-Qaryah Thayyibah" Ketapang Pikiran dan tindakan saling melahirkan. Maka, Didiklah pikiranmu dengan pengetahuan tentang kebaikan.

11/01/2018

Dalam masyarakat ada paradoks dimana motif ekonomi membuat kita lupa pada kebutuhan kita untuk bersosial. Durkheim tentang kohesi menyepakati bahwa dalam masyarakat yang terintegrasi rasa pusing dan frustasi dapat diminimalisir. Itu alasan kenapa manusia yang dalam keadaan menikah dan beranak-pinak, tengah berperang, primitif atau menganut agama primitif lebih sedikit potensi warganya melakukan su***de.

Benturannya, hidup hari ini kita dicekoki untuk konsumtif, berbelanja dan memiliki uang yang bisa jadi lepas dari kebutuhan berkumpul tersebut. Bukankah intensitas kita bersolidaritas saat ini secara kualitas dan kuantitas jauh menurun daripada masa buyut kita?

Nah, dalam kemodern-an ada jebakan, dan sebaik-baiknya orang adalah yang masih berkumpul dan menegur sapa, merangkul liyan, syukur-syukur secara finansial tak bermasalah.

02/04/2016

Negara berkeras hati bahwa UN sekolah menengah harus diselenggarakan serentak Senin nanti -sebuah sikap acuh yang tidak pantas di tengah realitas simbolisasi ijazah menghadapi gagap tunggang-langgang dunia yang cepat berubah. kitabutuhkompetensidantidakharustertulis

29/03/2016

Tentang hal

Tidak ada manusia yang tahu segala hal, masing-masing orang hanya cerdas dalam satu atau dua hal, oleh karena itu kita harus bersatu untuk lebih tahu banyak hal.

20/02/2016

Kenapa kamu bersekolah? Ini pertanyaan pendek dan mudah diingat bahkan untuk refleksi sambil nge-date atau nongkrong di malam Minggu. be happy at Satuday night, all!

06/01/2016

Agribisnis adalah turunan langsung dari kapitalisasi pertanian. Beras tidak dipandang sebagai zat suci dan sakral, sehingga sesuatu yang perlu diprioritas agar tidak kekurangan. Beras beralih menjadi 'commodity' yang bernilai ekonomis. Kapitalisme sistem ekonomi yang hanya hidup dari menghisap berpola uang-barang-uang, menggeser pola subsisten yang dulu melahirkan etika "dahulukan selamat".

Dalam periode transisi dari produksi berbasis tanah ke mesin sekarang, mempertahankan pekerjaan yang berdasar dari pengolahan tanah sawah itu setengah mati. Apalagi untuk berorganik, dapat kita lihat secara eksternal dari luar lahan, cemaran polusi sampah dan air kian hari kian mengkhawatirkan. Produk-produk industri masuk merusak air, mengalir ke lahan kaum tani. Sementara secara internal, mayoritas petani (non-organik) secara tak sadar dipaksa mengadopsi pola pertanian non-organik yang padat modal dan membuat mereka ketergantungan pada asupan kimia sintetis.

Efeknya penggunaan pestisida kimia sintetis di beberapa lahan, sawah merombak daur ekosistem bercorak mutualis dimana satu agen hayati berkompetisi membuat daur biologis bekerja. Adopsi pestisida sintetis di lahan yang pada mulanya digunakan untuk memberantas hama, secara jangka panjang betul-betul membunuh hama yang sebetulnya hanya perlu dikendalikan.

Kini, nyaris sulit kita temui kunang-kunang bermain di halaman rumah lagi seperti jamak kita nikmati semasa kecil. #

14/12/2015

Tentang Rasionalitas Jangka Pendek dan Mereka yang tak Dapat Diindustrikan

Kasak-kusuk gempuran industrialisasi/ kotanisasi di sekitar desa mulai riuh terdengar dari mulut ke mulut warga. Kejutan yang ditunggu-tunggu adalah cerita penjualan tanah yang dihargai superfantastis dari para pemodal. "wong-wong dho sugih ndadak, soale bar adol lemah digawe tol, pabrik, opo perumahan" begitu gambarannya. Dan memang kenyataannya seperti itu, para penjual tanah untuk kotanisasi desa menjadi menjadi orang kaya baru di desa.
Lalu berbondong-bondong cerita penjualan tanah dimitoskan sebagai cerita prestasional yang dengan cepat mewabah di benak para petani. Mereka tak malu-malu menjual alat produksinya ke tangan beberapa pemodal entah itu industrialis, pemborong, atau orang kaya kota.
Lalu muncul cerita tentang Karto. Ia orang yang tidak mau menjual tanahnya, Ia dikecam bodoh dan bebal oleh warga lain, karena menolak uang super besar tersebut. Alasan Karto adalah tanah jauh lebih berharga dari uang, "aku wong tani, nduweku yo mong kui (baca; tanah)".
Sikap Karto memang terdengar konyol, seakan tidak masuk akal/irasional. Pun begitu Karto mewakili arus dimana eksistensinya sebagai petani sangat berkorelasi dengan kepemilikan tanah. Rasionalitasnya berjangka panjang. Baginya, dialektika indentitas antara memiliki tanah dan status pekerjaan bertani menjadi saling mengisi. Dalam benaknya moral keterjaminan ia dan keluarganya atas hasil pertanian tidak dapat dibeli dengan nominal berapapun.
Dari pengalaman Karto, muncul pembalikan pertanyaan kepada para pengecamnya kemudian. Apakah mungkin para penjual tanah itu dapat mempertahankan statusnya sebagai OKB sampai 5/7 tahun nanti?

12/10/2015

Sangat disayangkan jika terjadi komodifikasi hubungan sosial di pedesaan. Artinya, nilai-nilai penting kolektivitas dan gotong-royong pelan teredusir menjadi sesuatu yang murni bisnis/transaksional. Komodifikasi sosial pedesaan ini nampak dari penggunaan uang dalam mekanisme pemecahan masalah di masyarakat.

Seperti diketahui, prinsip hidup tradisional adalah kesukarelaan/voluntarism yang sebetulnya adalah rasional dimana terjadi simbiosis mutual antar individu, (atau bisa juga institusi). Riilnya, orang yang bermasyarakat akan secara otomatis dianggap baik walaupun ia miskin, pun begitu sebaliknya.

Di pedesaan kini, kita berada pada dua pendulum itu, yakni apakah tetap mempertahankan voluntarism atau komodifikasi.

11/10/2015

Jangan mengaku malu untuk mengakui masih perlu belajar. Dan jangan malas p**a untuk membaca dan berpraktek. Selamat berproses!

11/04/2015

Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia. Itu karena Islam mengandung nilai pembebasan akal dan melarang fanatisme, terkecuali meyakini bahwa Allah SWT merupakan zat absolut dan segala yang ada sebagai hasil ciptaan-Nya.

Dasar berpikir seperti ini melecut para muslim untuk berijtihad dan bekerja keras mencari pahala dalam membongkar misteri Tuhan dalam berkecimpung ke berbagai bidang ilmu pengetahuan.Sarjana-sarjana Islam secara gigih menggali, menyerap dan menerjemahkan warisan pengetahuan terutama dari sisa-sisa cemerlang peradaban India, Mesir, Cina, Romawi dan Yunani purba. Terlahir pioneer dalam berbagai bidang pengetahuan dari rahim Islam seperti Ibnu Sina, Alfarabi, Omar Kayam, Al-Ghazali dan ratusan ilmuwan lagi.

Megah Islam berdiri sebagai agama berikut bangunan peradaban serba ilmiah. Beberapa abad saja sampai kemudian, kegelapan muncul bersama ekspansi luar yang memanfaatkan situasi krisis dalam Islam dalam rupa pertentangan aliran dan negara bangsa. Hari ini, saat darah dan airmata perseteruan antar muslim kian memerah, saya rindu Cordoba, Baghdad, Iskandariyah atau mimpi-mimpi seribu satu malam.

09/02/2015

Ada kondisi yang memprihatinkan akibat pendidikan mahal biaya. Pendidikan mahal akan cenderung mengarah pada ketidakadilan, semisal anak-anak miskin yang hidup subsisten memiliki akses yang lebih sulit untuk masuk ke pendidikan yang berkualitas (pendidikan berfasilitas lengkap dan dikelola profesional), dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga kaya atau kelas menengah.
Bagi keluarga berasal dari keluarga subsisten, tentu saja prioritas pendidikan menjadi sekunder dan seringkali terkalahkan karena seluruh proses ekonomi hanya diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kalau tokh ada, keluarga miskin yang menerabas menjadikan pendidikan anak sebagai primer, mereka harus rela berhutang, dlsb. Situasi ini berbeda dengan keluarga kelas menengah/ kaya, dimana pendidikan berkualitas untuk anak adalah prioritas (melihatnya sebagai investasi).
Kami melihat di sini pentingnya peran institusi sekelas desa atau masyarakat sipil untuk melakukan upaya (social engineering), agar permasalahan ini segera terpecahkan. Desa kami anggap institusi yang kecil namun mampu. Caranya, adalah melakukan pembackingan biaya untuk setiap lulusan sekolah berprestasi dari keluarga yang tidak mampu dengan prinsip yang saling menguntungkan (mutualis). Mutualisme ini sejenis pertukaran uang (dari institusi) dengan jasa / keahlian (komitmen yang dibantu untuk mensejahterakan desa).

11/01/2015

Dalam masa pra-masehi, seorang tokoh Yunani bernama Plato membuat Academia, namun sifatnya mimbar terbuka yang bebas kepentingan, terkecuali semangat membongkar mitos, mendekonstruksi keyakinan demi pengetahuan sendiri. Bentuk pendidikan Academia itu demokratis dengan cerita dan diakhiri tanya jawab seluruh pihak yang hadir, tidak terlalu menuntut formalitas macam-macam, terkecuali semangat 'mencari pengetahuan' dari seluruh pihak.

Institusionalisasi belajar dalam bentuk sekolah dan lembaga-lembaga penunjangnya merupakan temuan baru. Namun, benarkah entitas formalistik ini terbetot dari bentuk pendidikan ala Plato? Kalau iya, kenapa bisa? Tentu saja kita perlu melakukan pelacakan historis tersendiri.

26/11/2013

Kalau tidak ada muatan data dan fakta yang harus dipegang teguh, akan kita tinggalkan Rasionalitas sebagai metodologi berfikir. Namun, selama berfikir rasional masih bisa diandalkan sebagai alat pembongkar tabir kebohongan dan kejahatan, metode berpikir rasional harus kita genggam erat sebagai obor.

Address

Ketapang
Salatiga
50777

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SLTP-SMA "Global Altenatif School-Qaryah Thayyibah" Ketapang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share