Bisnis DARI RUMAH

Bisnis DARI RUMAH Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Bisnis DARI RUMAH, Science, Technology & Engineering, Juanda 2 Samarinda, Samarinda.

08/01/2026

Ibu bekerja itu sering dianggap seperti robot.
Tidak boleh capek, tidak boleh salah, semua harus beres.
Padahal tubuh baru saja sampai rumah,
tetapi pikiran masih tertinggal di kantor.

Anak harus terurus,
pekerjaan harus sukses,
keuangan harus aman.
Dan setiap pagi berangkat kerja
dengan rasa bersalah yang disembunyikan di balik senyum.

Sering kali kita bukan bekerja karena “kurang cinta anak”,
tetapi karena keadaan menuntut kita untuk kuat.
Kita dituntut keluar rumah,
tapi jarang sekali ada yang bertanya:
👉 “Kamu capek nggak?”
👉 “Kamu beneran baik-baik saja?”

Kalau hari ini kamu merasa lelah,
ingat ya…
kamu bukan robot.
Kamu adalah perempuan, istri, dan ibu
yang sedang berjuang sekuat yang kamu bisa 💞

Kalau kamu merasa relate dengan ini:
👉 Like dulu ya ❤️
👉 Tulis di komentar: “Aku Ibu Pejuang” ✍️
👉 Save biar bisa dibaca lagi saat lelah 📌
👉 Share ke ibu-ibu lainnya 🔁
Follow akun ini untuk saling menguatkan para ibu pejuang 💕✨



06/01/2026

Kalau bukan karena utang,
kamu mungkin nggak pernah tahu rasanya
dingin sekaligus bergetar.

Bukan karena takut miskin,
tapi karena merasa sendirian di dunia.
Karena ini bukan cuma soal angka.
Ini tentang rasa.
Tentang luka yang nggak kelihatan.
Tentang doa-doa yang diam-diam
minta dikuatkan.

Ada masa ketika salat,
tapi isi hati cuma satu:
“Ya Allah, tolong…”

Utang itu bukan sekadar cicilan.
Dia jadi beban di dada,
yang bikin air mata jatuh di tengah doa panjang.
Yang memaksa kita terlihat kuat, padahal di dalam sudah pecah.

Dan besok paginya…
kita tetap bangun.
Senyum.
Masak.
Ngurus anak.
Balas chat jualan.
Seolah nggak terjadi apa-apa.

Padahal rasa malu itu datang setiap hari,
bukan cuma saat ditagih.
Nggak semua orang mengerti.
Tapi aku tahu…kamu juga ngerasain.

Pelan-pelan ya.
Jalannya bukan dengan lari, tapi dengan sadar.
Lewat healing kecil. Lewat ikhtiar cuan yang nggak bikin burnout.
Lewat membangun ruang hidup yang lebih tenang. Nggak harus ribet. Cukup jadi ibu yang hari ini sedikit lebih kuat dari kemarin 🤍

Kalau tulisan ini terasa kamu banget,
beri tanda bahwa kamu masih bertahan.
🤍 Like kalau kamu sedang berjuang diam-diam
💬 Komen “aku kuat” kalau kamu nggak mau menyerah
📌 Save kalau ingin baca ulang saat hatimu penuh
📤 Share ke ibu lain yang mungkin sedang menahan air mata
➕ Follow akun ini untuk healing, kesadaran, dan jalan cuan yang lebih tenang
Kita pelan-pelan.
Tapi kita jalan 🌿



06/01/2026

Nggak ada ibu yang pengen marah-marah sama anaknya.
Pagi itu aku meninggikan suara.
Bukan karena anakku nakal…
tapi karena dadaku sudah penuh sejak lama.

Matanya kaget.
Dan di detik itu, aku kalah.
Aku sadar, yang keluar bukan marah.
Itu capek yang nggak pernah aku ceritakan.
Itu lelah yang kupendam sambil terus bilang,
“nggak apa-apa.”

Setiap ibu ingin jadi rumah yang aman untuk anaknya.
Tapi sering lupa, ibunya sendiri belum punya tempat pulang.

Kalau hari ini kamu mudah meledak,
itu bukan tanda kamu ibu yang buruk.
Itu tanda jiwamu sedang minta didengarkan.

Pelan-pelan ya…
kita belajar tenang,
bukan untuk jadi ibu sempurna,
tapi untuk jadi ibu yang sadar dan utuh.
🤍
Kalau tulisan ini terasa kamu banget,
berarti jiwamu sedang memanggil untuk dipeluk.
Berhenti sejenak… tarik napas…
dan izinkan dirimu sembuh.

👉 Follow akun ini untuk reminder lembut tentang healing ibu & inner child
👉 Simpan postingan ini kalau suatu hari hatimu terasa penuh
👉 Bagikan ke ibu lain yang mungkin sedang berjuang diam-diam
Kita belajar tenang,
bukan sendirian 🌿

04/01/2026

Katanya libur…
katanya bisa santai…
nyatanya cuma pindah posisi rebahan 😌

Sekarang selesai sudah.
Pagi kembali ribut, sore kembali tergesa.
Emak-emak kembali ke mode grasak-grusuk:
bangunin anak, nyiapin ini itu,
lalu bolak-balik antar jemput sekolah.
Capek iya.
Tapi tetap dijalani,
karena beginilah versi kuatnya seorang ibu.

Kalau kamu ngerasa “ini gue banget”, tap love-nya, share ke emak lain, dan follow akun ini ❤



04/01/2026

Dari sekian banyak doa yang kupanjatkan menuju 2026,
ada satu doa yang selalu membuatku menangis.
“Ya Allah,
jadikanlah anakku lebih beruntung dariku dalam segala hal.
Karuniakan takdir terbaik untuknya,
dan lindungilah ia dari takdir yang buruk.
Apa pun urusannya, mudahkanlah.
Sehatkan tubuhnya, tenangkan hatinya,
dan bahagiakan hidupnya selalu.”
Tak apa jika lelah itu singgah padaku,
asal kelak jalannya lebih lapang dariku.
Aamiin 🤍

👉 Jika kamu orang tua yang diam-diam menyimpan doa yang sama,
tuliskan “Aamiin” di kolom komentar,
simpan postingan ini sebagai pengingat,
dan follow untuk doa-doa yang menenangkan jiwa.


04/01/2026

Kadang yang paling lelah itu bukan fisik,
melainkan hati seorang ibu yang merasa tidak didengar.

Ibu bicara pelan, tak digubris.
Ibu mengulang dua kali, anak masih tenggelam di dunianya.
Saat suara ibu meninggi,
barulah semua sadar.
Namun yang diingat hanya satu hal:
“Ibu marah terus.”
Padahal sebelum marah,
ibu sudah memilih sabar berkali-kali.

💡 Lalu apa yang bisa kita lakukan?
• Pastikan kontak mata sebelum berbicara, bukan dari kejauhan.
• Sentuh lembut bahu atau tangan anak agar fokusnya kembali.
• Sampaikan instruksi singkat dan jelas, satu per satu.
• Tegas tanpa teriak: suara tenang, tapi konsisten.
• Beri jeda, tarik napas, karena ibu juga manusia yang bisa lelah.
Belajar mengasuh anak,
juga berarti belajar mengasihi diri sendiri.

👉 Kalau kamu pernah ada di fase ini, tulis “belajar sabar” di kolom komentar.
Simpan postingan ini dan follow untuk konten parenting reflektif & menenangkan.



03/01/2026

Kadang kita takut dibilang orang tua yang kejam.
Padahal, ketegasan bukan tentang menyakiti,
melainkan tentang mencintai anak dengan cara yang benar.

Jadilah orang tua yang tegas demi kebaikan anak:
1️⃣ Tegas menyuruh anak tidur lebih awal untuk melatih disiplin.
2️⃣ Tegas membangunkan anak saat azan Subuh agar terbiasa taat sejak kecil.
3️⃣ Tegas mengurangi uang jajan, sambil mengajarkan menabung dan berinfak.
4️⃣ Tegas tidak memberikan HP dan konsisten pada aturan meski anak menangis.
5️⃣ Tegas membolehkan anak bermain kotor agar sensorik dan mentalnya terlatih.
6️⃣ Tegas mengatakan “tidak”, karena tidak semua keinginan anak harus dituruti.
Ingat, anak yang kuat lahir dari orang tua yang berani tegas hari ini.

👉 Menurutmu, bagian mana yang paling sulit dilakukan sebagai orang tua?
Tulis di komentar, simpan postingan ini sebagai pengingat, dan follow untuk konten parenting penuh makna.


03/01/2026

Semakin hari, banyak orang tua merasa anaknya makin menjauh.
Yang dulu s**a bercerita, kini lebih memilih diam, sibuk dengan gadget, atau menghabiskan waktu di luar rumah.
Ini bukan terjadi tanpa sebab.
Ada beberapa hal yang perlahan menciptakan jarak emosional antara orang tua dan anak.

Pertama,
Kurangnya koneksi emosional sejak dini.
Banyak orang tua merasa sudah cukup memenuhi kebutuhan fisik: makan, sekolah, pakaian.
Padahal anak juga butuh didengar, divalidasi perasaannya, dan merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Jika sejak kecil anak sering dimarahi saat jujur, lama-lama ia belajar diam dan menjaga jarak.

Kedua,
Pola komunikasi yang otoriter.
Orang tua yang selalu merasa paling benar, memotong pembicaraan anak, atau memaksakan kehendak atas nama “demi kebaikanmu” tanpa ruang diskusi, membuat anak merasa tidak dihargai.
Akhirnya, anak lebih nyaman bercerita ke teman atau dunia luar.

Ketiga,
Perbandingan dan tuntutan berlebihan.
Kalimat seperti, “Lihat anak si A, kamu harus bisa lebih,” atau “Dulu orang tua kamu lebih susah,” tanpa empati, perlahan melukai harga diri anak.
Anak merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Keempat,
Gadget dan media sosial.
Sering disalahkan, padahal akarnya lebih dalam.
Anak betah dengan gadget karena di sana mereka merasa diterima, bebas berekspresi, dan tidak dihakimi.
Jika di rumah yang mereka temui hanya aturan, kritik, dan konflik, wajar jika dunia digital terasa lebih hangat.

Kelima,
Orang tua terlalu sibuk atau tidak hadir secara utuh.
Bukan soal lama waktu, tapi kualitas kehadiran.
Tubuh ada di rumah, tapi pikiran masih di pekerjaan atau urusan lain.
Anak pun belajar bahwa orang tuanya ada, tapi tidak benar-benar hadir.
Jika rumah kembali menjadi tempat aman,
anak tak perlu mencari kehangatan di luar.

💬 Menurutmu, poin mana yang paling sering terjadi di sekitar kita?
Tulis di kolom komentar.
💾 Simpan postingan ini sebagai pengingat.
🔁 Bagikan ke orang tua lain yang sedang berjuang membangun kedekatan dengan anak.
➕ Follow akun ini untuk konten parenting & healing keluarga.



03/01/2026

Waktu kecil kamu sering dibanding-bandingkan.
Orang tua terasa lebih memilih adik atau kakak.
Saat dewasa, kamu tumbuh dengan rasa tidak percaya diri, merasa tidak layak dicintai, dan terbiasa menyenangkan semua orang agar tidak ditinggalkan.

Waktu kecil kamu dipermalukan di depan orang, dijadikan bahan candaan.
Saat dewasa, kamu memilih diam, takut salah bicara,
dan sulit menerima pujian karena merasa tidak pantas.
Waktu kecil kamu disuruh mengurus adik, menjadi penengah konflik orang tua.

Saat dewasa, kamu terbiasa kuat sendirian, tidak enak minta bantuan, merasa semua harus kamu tanggung sendiri.
Waktu kecil kamu dibentak, dimarahi dengan kata-kata kasar, bahkan dihukum secara fisik.
Saat dewasa, kamu sensitif terhadap suara keras,
takut konflik, dan mudah merasa tertekan.

Dan tanpa kamu sadari…
semua itu bukan salahmu.
Kamu hanya anak kecil
yang sedang berusaha bertahan.

Jika tulisan ini terasa seperti cerita hidupmu,
beri ❤️ di postingan ini.
Tulis di komentar: “Aku belajar sembuh”

Simpan, bagikan, dan follow
siapa tahu ada hati lain yang sedang butuh pelukan lewat kata.



02/01/2026

Ini bukan hal mistis.
Rumahmu adalah cerminan energimu.
Saat energimu penuh, capek, dan sesak,
rezeki pun ragu untuk masuk.

Pernah nggak, rumah sedikit berantakan saja
langsung bikin emosi turun, gampang marah, ingin nangis, dan merasa semua terasa berat?

Itu karena energi rumah langsung tersambung
dengan energi diri.
Benda-benda mati justru paling kuat menyimpan getarannya.
Barang rusak yang dibiarkan— panci penyok, kipas bunyi, mainan patah, jam mati— memancarkan energi kelelahan dan stagnan.
Membersihkannya sama dengan membuka aliran energi baru.

Pakaian yang tak pernah dipakai
(kekecilan, kebesaran, atau “baju masa lalu”)
menahan identitas lama yang sudah tidak sejalan.

Jika ingin hidup baru, ruang baru harus disiapkan.
Lepaskan masa lalu agar versi dirimu yang lebih kuat bisa masuk.

Struk dan kertas lama di dompet adalah “rumah uang”.
Jika penuh sampah, energi uang sulit betah.
Dompet bersih membuat rezeki merasa dihargai.
Tote bag dan barang “nanti kepakai” yang menumpuk
membuat rumah terasa berat dan sesak.
Simpan 2–3 yang benar-benar dipakai,
sisanya keluarkan atau berikan.

Ruang yang lega = aliran rezeki yang lega.
Seringkali, yang kita simpan di rumah
adalah emosi yang kita tumpuk di hati:
takut, ragu, malu, dan berat melepaskan.

Jika ingin rezeki mengalir,
mulailah dari langkah sederhana:
lepaskan yang seharusnya dilepas.
Yang lapang akan menarik rezeki yang matang,
yang lega akan memanggil jalan rezeki yang luas.

Tulis di kolom komentar, barang apa yang paling sulit kamu lepaskan selama ini.
Siapa tahu, dengan menuliskannya, kamu mulai berani melepas.
Simpan, bagikan dan follow jika ingin mulai membersihkan energi rumahmu hari ini.



Address

Juanda 2 Samarinda
Samarinda
75124

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bisnis DARI RUMAH posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Bisnis DARI RUMAH:

Share