26/09/2017
(Pernah kita menemui aliran ajaran Bahai, yang mirip orang Persia pada mula aksara. Mewarnai hadirnya dunia, maju dan filsafat yang umum... Dinasti kerajaan Turki, Islam dan Persia juga tanah bumi Yerussalem selain kepercayaan yang dulu pernah mengisi, segala sifat yang umiyah, kerangka masyur pada ahli hukum dan keluarga yang madani. Sepanjang garis lentur bumi dan pekerti, banyak di kenang oleh bangsa yang baik, berpasrah pada takdir Tuhan yang menyebar di pelupuk mata. Aliran kepercayaan sebagai pemecah, kebudayaan di Timur- tengah dan utara tanah Inggris, Halabja dan cinta kasih kepada ruh alami ketuhanan. Semasa berdirinya Sultan dan khasanah, tanah barat dan calips yang juga adalah salah satu pedoman pada berdirinya, ukhuwah selain pada taraf kebesaran kultus samawi. Orang tua dan pemuda berdarah Arab, Yaman dan India juga Turki dan Haifa, setarikh mula aturan pola kehidupan yang menyatu kalbu dan keselamatan. Bahai merupakan baiduri, pelancong dari tanah Gujaratkah? Intuisi pada hukum kesatuan yang lengkap di Taman Tajj Mahal, bertalu pada gema keselarasan. Bahai merupakan baju muka pesona, takjubnya sinar dan selama hati gembira merayakan hari raya. Tahun- tahun panen di utara dan arah, seperti pada religi kultus agama lainya, dengan ketegasan menjaga arah bintang- bintang, sekolah pra- masa yang agung, berpeci dan tegak mencapai Syria dan Ankara, lahirnya pedoman isma dan ahlul bait laksana arung pada ilmuwan dan mozaik nalar beta menjadi tenar, setinggi laut dan udara yang memberi penghidupan, di villa dan kota Seljuk, Sinai yang indah.)